Hubungan ekologis antara Bogor dan Jakarta telah lama menjadi pusat perhatian setiap kali musim penghujan tiba. Fenomena alam yang sering kali diringkas dengan kalimat Bogor Banjir, Jakarta Terendam merupakan gambaran nyata betapa rusaknya keseimbangan alam di wilayah hulu memberikan dampak langsung bagi wilayah hilir. Curah hujan yang tinggi di kawasan puncak tidak lagi dapat diserap dengan maksimal oleh tanah karena hilangnya tutupan hutan, sehingga air meluncur deras melalui aliran Sungai Ciliwung dan meluap di pemukiman warga Jakarta. Tanpa adanya tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi di bagian atas, siklus banjir tahunan ini akan terus berulang dan menimbulkan kerugian yang semakin besar.
Menyadari tanggung jawab besar sebagai wilayah penyangga, gerakan pemulihan lingkungan mulai digencarkan secara masif. Sebuah Aksi PMI Bogor yang melibatkan ratusan relawan dan masyarakat adat dilakukan untuk mengembalikan fungsi hutan di area-area strategis. Mereka tidak hanya fokus pada pemberian bantuan saat bencana terjadi, tetapi juga mulai berinvestasi pada pencegahan jangka panjang melalui rehabilitasi alam. Dengan menanam bibit pohon yang memiliki daya serap air tinggi, diharapkan struktur tanah di kawasan perbukitan kembali stabil dan mampu menahan laju air hujan, sehingga debit air yang mengalir ke sungai tetap dalam batas yang aman dan terkendali.
Fokus utama dari kegiatan ini adalah upaya untuk Tanam Pohon di area yang selama ini terabaikan atau beralih fungsi secara ilegal. Pemilihan jenis pohon juga dilakukan dengan sangat teliti, lebih mengutamakan jenis pohon keras lokal yang memiliki akar tunggang yang dalam dan kuat. Selain berfungsi sebagai penahan air, pohon-pohon ini juga membantu mencegah terjadinya tanah longsor yang sering kali mengancam nyawa warga di lereng-lereng bukit saat hujan deras mengguyur. Gerakan ini juga dibarengi dengan edukasi kepada warga sekitar agar ikut menjaga bibit yang telah ditanam, karena keberhasilan program ini sangat bergantung pada keberlanjutan perawatan dalam beberapa tahun pertama.
Langkah ini dilakukan secara khusus pada di Lahan Kritis yang sudah mengalami degradasi parah. Lahan-lahan ini biasanya merupakan bekas tebangan atau area yang ditinggalkan begitu saja setelah tidak lagi produktif untuk pertanian. Pemulihan lahan kritis memerlukan kesabaran dan kerjasama kolektif dari berbagai pihak, termasuk dukungan dari pemerintah pusat dalam hal pengawasan tata ruang. Relawan palang merah melihat bahwa misi kemanusiaan di masa depan harus mencakup aspek keadilan iklim; artinya, menjaga lingkungan adalah bagian dari menyelamatkan nyawa manusia dari ancaman bencana yang diakibatkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri.
