Kehancuran fisik akibat bencana seringkali diikuti oleh krisis kesehatan mental yang luput dari perhatian. Bagi anak-anak korban bencana, hilangnya rasa aman dan pengalaman traumatis dapat meninggalkan bekas luka psikologis mendalam. Di sinilah peran Palang Merah Indonesia (PMI) menjadi krusial melalui layanan Dukungan Psikososial (PSP) yang terfokus pada pemulihan mental. PMI membangun Ruang Ramah Anak di lokasi pengungsian, sebuah intervensi yang dirancang secara spesifik untuk memulihkan keceriaan dan daya tahan psikologis mereka. Kehadiran tim Dukungan Psikososial adalah janji bahwa di tengah keterpurukan material, kesehatan mental penyintas tetap menjadi prioritas.


Aktivasi layanan Dukungan Psikososial oleh PMI dimulai pada 48 jam pertama pasca-bencana, setelah kebutuhan dasar fisik seperti pangan dan hunian darurat mulai terpenuhi. Tim relawan spesialis PSP, yang terdiri dari psikolog dan relawan terlatih, segera melakukan kajian cepat (Rapid Assessment) untuk mengidentifikasi kelompok rentan dan tingkat trauma yang dialami. Misalnya, setelah gempa di suatu wilayah pada hari Jumat, 5 Mei 2025, tim PSP PMI di Posko Utama mencatat bahwa dari 900 anak-anak yang mengungsi, 40% menunjukkan gejala kecemasan seperti menangis tanpa sebab, sulit tidur, dan menolak berpisah dengan orang tua. Data ini menjadi dasar operasional Ruang Ramah Anak.

Ruang Ramah Anak (RRA) bukanlah sekadar tempat bermain, melainkan lingkungan yang aman dan terstruktur untuk terapi ekspresif. RRA diaktifkan di salah satu tenda komunal di Posko Pengungsian A pada hari Minggu, 7 Mei 2025, pukul 09.00 WIB, dengan jam operasional dari pagi hingga sore hari. Aktivitas di dalamnya dirancang untuk memfasilitasi anak-anak melepaskan emosi negatif dan menumbuhkan rasa percaya diri. Kegiatan tersebut meliputi terapi seni (menggambar dan mewarnai untuk mengekspresikan ketakutan), play therapy (permainan berkelompok untuk membangun kembali interaksi sosial), hingga sesi cerita yang dikemas ringan. Dalam salah satu sesi pada tanggal 10 Mei 2025, seorang petugas Polwan dari Unit PPA Polres setempat turut berpartisipasi dalam kegiatan fun-games, menunjukkan sinergi antarlembaga dalam menciptakan rasa aman bagi anak-anak.

Program Dukungan Psikososial PMI tidak hanya menyasar anak-anak. Sesi Psychological First Aid (PFA) juga diberikan kepada orang dewasa dan lansia. PFA adalah intervensi non-profesional yang bertujuan untuk menstabilkan kondisi emosional korban, mendengarkan keluh kesah mereka tanpa menghakimi, dan menghubungkan mereka dengan layanan atau sumber daya yang diperlukan. Tujuannya adalah mengurangi tingkat stres akut dan memperkuat daya adaptasi alami penyintas. Dengan pendekatan komprehensif ini, PMI memastikan bahwa pemulihan pasca-bencana tidak hanya fokus pada pembangunan kembali rumah, tetapi juga pada pemulihan mental dan psikologis masyarakat.