Trauma pasca-bencana memiliki dampak yang mendalam, terutama bagi anak-anak yang rentan. Menghadapi kondisi kehilangan, ketakutan, dan lingkungan yang berubah drastis, Palang Merah Indonesia (PMI) menempatkan program Dukungan Psikososial (DPD) sebagai bagian integral dari respons darurat. Fokus utama dari program ini adalah Intervensi Psikologis cepat untuk memulihkan stabilitas mental dan emosional anak-anak terdampak. Respon yang cepat dan terstruktur ini bertujuan untuk mencegah gejala trauma akut berkembang menjadi masalah kesehatan mental jangka panjang, memastikan bahwa pemulihan fisik diiringi dengan pemulihan jiwa.
Anak-anak, dengan keterbatasan mereka dalam memproses peristiwa traumatis, sering menunjukkan gejala shock seperti menarik diri, kesulitan tidur, menangis berkepanjangan, atau regresi perilaku. Menanggapi kondisi ini, PMI segera mengintegrasikan tim psikososial ke dalam Posko Pengungsian yang didirikan di area aman. Sebagai contoh spesifik, pasca letusan Gunung Semeru yang parah di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, tim psikososial PMI mendirikan tenda khusus DPD di lokasi pengungsian utama, tepatnya di area Balai Desa Sumberwuluh, pada hari Kamis, 9 Desember 2021. Tim yang terdiri dari 10 relawan terlatih, termasuk dua psikolog klinis berlisensi, segera memulai operasi mereka.
Aktivitas Intervensi Psikologis yang diterapkan mencakup berbagai metode yang disesuaikan dengan usia anak. Untuk kelompok usia 3-6 tahun, fokusnya adalah therapeutic play atau bermain terapeutik, menggunakan seni, menggambar, dan mendongeng untuk membantu mereka mengekspresikan emosi yang tertekan. Di hari pertama operasi DPD, tercatat 85 anak berpartisipasi dalam sesi ini. Sementara itu, untuk kelompok usia 7-12 tahun, digunakan metode group sharing yang terstruktur dan latihan relaksasi. Salah satu data penting yang dicatat oleh Koordinator Program DPD PMI, Ibu Sita Dewi, M.Psi., adalah bahwa 40% dari total anak yang dijangkau menunjukkan gejala kecemasan tinggi dalam tiga hari pertama pasca-bencana, yang menandakan pentingnya Intervensi Psikologis yang tepat.
Program DPD ini tidak berjalan sendiri. Ia terintegrasi erat dengan layanan kesehatan umum dan koordinasi keamanan. Setiap pagi pada pukul 07:30 WIB, tim DPD berkoordinasi dengan Tim Medis Lapangan PMI untuk mengidentifikasi anak-anak yang juga memiliki keluhan fisik akibat stres psikologis, seperti sakit kepala atau sakit perut. Data tersebut kemudian ditautkan untuk penanganan holistik. Selain itu, untuk memastikan keamanan dan suasana kondusif bagi anak-anak, tim DPD berkolaborasi dengan petugas keamanan. Contohnya, pada tanggal 12 Desember 2021, tim berkoordinasi dengan perwakilan dari TNI Batalyon Infanteri 527/Baladibya Yudha yang bertugas di posko, untuk menyediakan area bermain yang terpisah dari hiruk pikuk dapur umum dan distribusi logistik. Koordinasi ini penting untuk menciptakan “zona aman” di tengah lingkungan pengungsian yang rentan.
Pelaksanaan Intervensi Psikologis oleh PMI merupakan investasi jangka panjang dalam pemulihan komunitas. Dengan memberikan dukungan mental dan emosional di masa-masa paling kritis, PMI tidak hanya mengobati luka fisik, tetapi juga membangun kembali ketahanan psikologis anak-anak sebagai generasi penerus. Langkah cepat, terstruktur, dan terintegrasi ini menjadi bukti nyata komitmen PMI dalam memanusiakan pertolongan.
