Pasca sebuah bencana, pendirian posko pengungsian adalah langkah krusial untuk menyediakan tempat berlindung sementara. Namun, penempatan dan pengelolaan posko itu sendiri dapat menimbulkan serangkaian bahaya dan kerentanan baru. Oleh karena itu, langkah proaktif Mitigasi Risiko harus segera dilakukan. Mitigasi Risiko adalah proses berkelanjutan untuk mengidentifikasi, menilai, dan mengambil tindakan untuk mengurangi dampak buruk dari potensi bahaya di sekitar area penampungan. Tanpa analisis kerentanan yang cermat, posko yang seharusnya menjadi tempat aman justru dapat berubah menjadi sumber bahaya baru, baik itu ancaman kesehatan, sosial, maupun keselamatan fisik.
Identifikasi Bahaya Fisik di Posko
Langkah pertama dalam Mitigasi Risiko adalah asesmen lingkungan fisik posko. Area yang tampak aman setelah bencana bisa jadi menyimpan ancaman yang tidak terlihat. Hal ini memerlukan tim ahli, seringkali melibatkan insinyur sipil dan tim dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), untuk melakukan survei cepat.
Bahaya fisik yang sering teridentifikasi meliputi:
- Kerentanan Struktur: Tenda atau bangunan semi-permanen yang didirikan harus jauh dari struktur yang rusak atau berpotensi runtuh akibat gempa susulan. Sebagai contoh, di sebuah posko sementara di daerah rawan gempa pada hari Senin, 10 Maret 2025, tim teknis BPBD memerintahkan pemindahan area dapur umum setelah diketahui berada terlalu dekat dengan sisa tembok beton yang miring.
- Akses dan Drainase: Posko harus didirikan di lokasi yang memiliki drainase baik untuk mencegah genangan air. Genangan air adalah sumber penyakit dan dapat mengganggu mobilitas, terutama bagi lansia dan penyandang disabilitas. Di area yang sering hujan, relawan perlu membuat parit dan jalur pembuangan air yang terstruktur.
Kerentanan Non-Fisik dan Sosial
Selain ancaman struktural dan lingkungan, risiko di posko seringkali bersifat non-fisik dan sosial. Kepadatan penduduk, stres, dan hilangnya privasi dapat memicu masalah keamanan dan kesehatan.
- Risiko Kesehatan (Epidemi): Potensi bahaya terbesar di posko padat adalah penyebaran penyakit menular. Ini berkaitan erat dengan ketersediaan air bersih dan sanitasi. Program Hygiene Promotor dari Palang Merah Indonesia (PMI) secara rutin melakukan edukasi dan menyediakan fasilitas cuci tangan. Mereka secara spesifik memantau gejala diare dan ISPA pada anak-anak, mencatat setiap kasus untuk isolasi dini.
- Risiko Keamanan dan Sosial: Area pengungsian sering menjadi target kejahatan atau tempat terjadinya konflik internal. Mitigasi Risiko keamanan melibatkan koordinasi yang erat dengan aparat penegak hukum. Posko Utama, yang didirikan pada tanggal 5 Februari 2024, di bawah pengawasan Kepolisian Sektor (Polsek) setempat, menetapkan jam malam pada pukul 22.00 WIB dan zona lampu yang terang untuk mengurangi peluang kejahatan, terutama terhadap perempuan dan anak-anak.
Semua langkah ini—mulai dari relokasi struktur hingga penegakan keamanan—adalah bagian dari strategi Mitigasi Risiko yang komprehensif. Tujuannya adalah memastikan bahwa posko benar-benar menjadi tempat pemulihan, bukan tempat berkembangnya ancaman baru.
