Masalah kebakaran hutan dan lahan atau yang lebih dikenal dengan sebutan karhutla merupakan tantangan lingkungan yang sangat serius di Provinsi Jambi. Setiap kali musim kemarau panjang tiba, risiko munculnya titik api di lahan gambut selalu menghantui masyarakat. Menanggapi situasi yang berulang ini, pihak PMI Jambi telah mengambil langkah proaktif dengan mulai menyiagakan personil relawan khusus. Tim ini dibentuk secara spesifik untuk menangani dampak kesehatan dan membantu proses pemadaman dalam situasi keadaan darurat yang diakibatkan oleh kabut asap pekat. Kehadiran mereka di lapangan sangat krusial, terutama bagi warga yang tinggal di wilayah pedalaman yang sulit dijangkau oleh kendaraan besar.
Para personil yang disiagakan telah melewati serangkaian pelatihan fisik yang berat untuk memastikan mereka mampu bekerja di lingkungan dengan kadar oksigen rendah. Selain membantu instansi pemadam kebakaran, tugas utama tim relawan ini adalah memberikan pelayanan kesehatan primer kepada warga yang terpapar asap. Mereka membawa bantuan berupa masker medis standar N95, obat-obatan untuk saluran pernapasan, serta tabung oksigen portabel untuk tindakan pertolongan pertama. Dalam kondisi kabut asap yang mencapai level berbahaya, kecepatan dalam memberikan bantuan oksigen dapat mencegah terjadinya komplikasi serius bagi penderita asma maupun anak-anak balita.
Manajemen penanganan bencana asap ini juga melibatkan pemantauan data satelit untuk mengetahui arah sebaran asap. Dengan informasi yang akurat, PMI dapat menentukan lokasi mana yang paling mendesak untuk segera didirikan posko kesehatan atau “safe house” yang bebas asap. Relawan diinstruksikan untuk bergerak secara mobile menggunakan sepeda motor agar bisa menembus jalan-jalan tanah di area perkebunan. Dedikasi ini menunjukkan bahwa peran relawan tidak hanya terbatas pada bantuan fisik, tetapi juga sebagai penyambung lidah pemerintah dalam memberikan edukasi kepada petani mengenai bahaya membakar lahan secara ilegal selama musim kering.
Selain dampak kesehatan fisik, tim ini juga mulai memperhatikan dampak ekonomi dan psikologis bagi warga terdampak. Banyak petani yang kehilangan mata pencaharian karena lahan mereka hangus terbakar, yang memicu tekanan mental dan ketidakpastian ekonomi. Di sinilah peran relawan untuk memberikan dukungan moral serta membantu pendistribusian bantuan logistik pangan. Sinergi yang kuat antara masyarakat, relawan, dan pemerintah adalah kunci dalam menghadapi krisis lingkungan ini. Melalui pendekatan yang humanis, diharapkan warga merasa tidak sendirian dalam menghadapi bencana tahunan yang merugikan banyak pihak tersebut.
Kesiapsiagaan yang dilakukan sejak dini merupakan upaya untuk memutus rantai penderitaan akibat asap. PMI Jambi terus berupaya menambah jumlah personil yang terlatih melalui program rekrutmen di tingkat universitas dan organisasi kepemudaan. Semakin banyak tangan yang membantu, maka beban yang dipikul saat masa krisis tiba akan terasa lebih ringan. Komitmen para pejuang kemanusiaan ini dalam menjaga paru-paru dunia dan kesehatan sesama adalah bentuk nyata dari pengabdian tanpa batas. Dengan kerja keras dan doa, diharapkan langit Jambi akan segera kembali biru dan bebas dari ancaman kabut asap yang membahayakan generasi mendatang.
