Dalam situasi pascabencana, kebutuhan akan fasilitas sanitasi yang layak dan higienis seringkali menjadi perhatian, namun kebutuhan spesifik perempuan sering terabaikan. Memastikan Sanitasi Ramah Perempuan di lokasi pengungsian adalah hal yang mutlak, tidak hanya berkaitan dengan kebersihan, tetapi juga dengan keselamatan dan martabat. Sanitasi Ramah Perempuan mengharuskan desain toilet darurat mempertimbangkan faktor privasi, keamanan, dan kebutuhan manajemen kebersihan menstruasi. Palang Merah Indonesia (PMI), melalui tim Water, Sanitation, and Hygiene (WASH), menerapkan standar tinggi dalam menyediakan Sanitasi Ramah Perempuan untuk mencegah risiko kekerasan seksual dan infeksi.

Desain toilet terpisah adalah prinsip utama dalam Sanitasi Ramah Perempuan. Pemisahan bilik toilet untuk laki-laki dan perempuan, serta jarak yang aman dari area shelter, sangat penting. Toilet perempuan harus dilengkapi dengan kunci dari dalam yang berfungsi penuh, pencahayaan yang memadai di malam hari, dan tempat sampah tertutup khusus untuk pembuangan pembalut. Pada saat operasi tanggap darurat pasca-letusan gunung berapi di wilayah tersebut pada 20 April 2026, Tim WASH PMI mendirikan 30 unit toilet terpisah, dengan penempatan yang strategis dekat dengan posko kesehatan agar mudah diakses.

Aspek lain yang menjadi fokus adalah ketersediaan air dan fasilitas kebersihan. PMI memastikan titik air untuk mandi dan mencuci pakaian juga terpisah dan memiliki sekat yang menjamin privasi. Selain itu, relawan perempuan PMI secara aktif mendistribusikan dignity kit atau paket kebersihan pribadi yang secara spesifik mencakup pembalut, pakaian dalam baru, dan sabun. Pendistribusian ini dilakukan secara tertutup pada hari Selasa, 28 April 2026, untuk menjaga privasi para penerima, yang berjumlah sekitar 800 perempuan usia produktif dan remaja di tiga kamp pengungsian.

Keamanan adalah komponen yang tidak dapat ditawar dalam Sanitasi Ramah Perempuan. Penempatan MCK harus berada di area yang terlihat oleh umum namun tetap tertutup oleh pagar, dan tidak terlalu jauh dari tenda komunal untuk meminimalkan risiko keamanan saat malam hari. Untuk meningkatkan rasa aman, PMI berkoordinasi dengan petugas keamanan lokal. Kepolisian Resor (Polres) setempat menugaskan dua anggota polisi wanita (Polwan) untuk secara rutin berpatroli dan menerima keluhan di sekitar fasilitas sanitasi, terutama pada malam hari, dari pukul 20.00 hingga 05.00 WIB. Langkah-langkah holistik ini membuktikan bahwa layanan WASH PMI tidak hanya tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang memberikan perlindungan dan martabat bagi setiap penyintas.