Bencana alam tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik berupa bangunan yang runtuh atau infrastruktur yang terputus, tetapi juga luka batin yang mendalam bagi para penyintasnya. Di wilayah Bogor, yang sering kali menghadapi ancaman tanah longsor dan angin kencang, pemulihan kesehatan mental pasca-bencana menjadi perhatian utama para relawan. Salah satu pendekatan unik yang dikembangkan oleh tim lapangan adalah metode “Shinrin-yoku” atau mandi hutan yang diadaptasi dengan kearifan lokal. Terapi ini memanfaatkan kekayaan alam Bogor untuk membantu warga, terutama anak-anak, dalam mengatasi trauma yang mereka alami akibat kehilangan tempat tinggal atau pengalaman mencekam saat bencana terjadi.
Secara ilmiah, berada di lingkungan hutan yang asri dapat menurunkan kadar hormon stres seperti kortisol dalam tubuh. Bogor, dengan udaranya yang sejuk dan vegetasi yang hijau, menyediakan laboratorium alam yang sempurna untuk proses penyembuhan ini. Relawan mengajak para penyintas untuk berjalan santai di bawah naungan pepohonan, menghirup aroma tanah yang basah, dan mendengarkan suara aliran air sungai. Aktivitas ini bertujuan untuk mengalihkan pikiran mereka dari memori buruk tentang trauma masa lalu dan membawa kesadaran mereka kembali ke masa kini (mindfulness). Suasana yang tenang membantu sistem saraf parasimpatis untuk bekerja lebih aktif, sehingga memicu rasa relaksasi yang mendalam.
Dalam sesi terapi ini, relawan juga menyelipkan kegiatan konseling kelompok yang dibalut dengan permainan edukatif di alam terbuka. Anak-anak yang tadinya murung atau ketakutan saat mendengar suara guntur mulai diajarkan untuk bersahabat kembali dengan alam. Mereka diberikan pemahaman bahwa alam tidak hanya bisa membawa bencana, tetapi juga memberikan kehidupan dan ketenangan. Proses penyembuhan trauma melalui alam ini terbukti lebih efektif dan lebih cepat diterima oleh warga dibandingkan dengan sesi konseling konvensional di dalam ruangan yang sering kali terasa kaku dan mengintimidasi bagi sebagian orang di pedesaan.
Selain bagi penyintas, terapi ini juga sangat bermanfaat bagi para relawan itu sendiri. Menghadapi situasi darurat setiap hari dapat menyebabkan kelelahan emosional yang luar biasa atau yang dikenal dengan istilah compassion fatigue. Dengan rutin melakukan kegiatan di hutan, para relawan dapat melakukan “detoksifikasi” mental agar tetap sehat secara psikologis. Kesehatan mental penolong sangat penting agar mereka tetap memiliki empati dan kesabaran dalam melayani masyarakat. Penanganan trauma yang komprehensif ini memastikan bahwa proses pemulihan sebuah wilayah pasca-bencana tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan kembali semangat hidup warganya.
