Dalam situasi darurat atau kecelakaan, ketenangan dan tindakan yang terstruktur dapat menjadi perbedaan antara hidup dan mati. Bagi individu yang terlatih dalam Pertolongan Pertama (PP), alat paling efektif untuk menilai dan merespons situasi dengan cepat adalah protokol DRSABCD. Protokol ini, yang merupakan akronim dari Danger, Response, Send for Help, Airway, Breathing, CPR, dan Defibrillation, menyediakan panduan praktis dan prioritas utama saat Menghadapi Korban Kecelakaan. Penguasaan langkah-langkah ini memastikan bahwa penolong mengamankan diri sendiri terlebih dahulu, menilai kondisi korban, dan memulai intervensi kritis secara berurutan. Protokol DRSABCD adalah fondasi yang harus diketahui oleh setiap orang yang Menghadapi Korban Kecelakaan serius, menjadikan tindakan yang diambil menjadi efektif dan aman.
Langkah 1: Danger, Response, Send for Help (DRS) – Prioritas Keselamatan
Tiga huruf pertama dari DRSABCD fokus pada keamanan di sekitar lokasi, yang merupakan prioritas mutlak. Keselamatan penolong selalu didahulukan.
- D – Danger (Bahaya): Sebelum mendekati korban, penolong harus mengamankan area. Bahaya dapat berupa lalu lintas yang masih bergerak, cairan kimia, kabel listrik, atau api. Misalnya, setelah kecelakaan tunggal di Jalan Raya Lintas Sumatera pada hari Kamis, 5 Desember 2024, petugas PJR (Patroli Jalan Raya) yang pertama tiba wajib memastikan bahwa lokasi sudah ditandai dengan segitiga pengaman dan lalu lintas dialihkan sebelum mendekati kendaraan yang ringsek. Jika bahaya tidak dapat dihilangkan, korban harus dipindahkan secara hati-hati (hanya jika nyawa korban dalam bahaya langsung).
- R – Response (Respon): Periksa tingkat kesadaran korban. Panggil nama korban, tepuk bahu mereka dengan lembut, atau berikan rangsangan nyeri ringan. Jika korban merespons, bantu mereka ke posisi yang nyaman dan amati kondisi mereka.
- S – Send for Help (Minta Bantuan): Segera aktifkan layanan darurat (misalnya, hubungi 118 atau nomor lokal kepolisian). Penting untuk memberikan lokasi yang spesifik, waktu kejadian (misalnya, pukul 14:30 WIB), dan deskripsi singkat tentang insiden dan jumlah korban saat Menghadapi Korban Kecelakaan. Panggilan ini harus dilakukan secepat mungkin, atau minta orang lain di sekitar untuk melakukannya.
Langkah 2: Airway dan Breathing (AB) – Menyelamatkan Nyawa
Dua langkah ini adalah intervensi vital yang harus dilakukan setelah keselamatan dipastikan dan bantuan sudah dipanggil.
- A – Airway (Jalan Napas): Jalan napas adalah prioritas utama dalam PP. Jika korban tidak sadar, lidah mereka mungkin jatuh ke belakang dan menghalangi jalan napas. Lakukan teknik head tilt/chin lift (dongakkan kepala, angkat dagu) untuk membuka jalan napas. Jika dicurigai ada cedera tulang belakang leher (misalnya, dari kecelakaan mobil kecepatan tinggi), gunakan teknik jaw thrust (mengangkat rahang) untuk meminimalkan gerakan leher.
- B – Breathing (Pernapasan): Periksa apakah korban bernapas secara normal. Lihat pergerakan dada, dengarkan suara napas, dan rasakan hembusan napas di pipi Anda selama tidak lebih dari 10 detik. Jika korban tidak bernapas atau bernapas tidak normal (gasping), lanjutkan segera ke langkah C.
Langkah 3: CPR dan Defibrillation (CD) – Resusitasi
Langkah terakhir diterapkan jika korban tidak sadar dan tidak bernapas normal.
- C – CPR (Resusitasi Jantung Paru): Mulai kompresi dada segera. Lakukan 30 kompresi dada diikuti dengan 2 napas buatan (rasio 30:2) jika Anda terlatih dan merasa aman melakukannya. Kompresi harus dilakukan dengan kuat dan cepat (sekitar 100–120 kali per menit) di tengah dada.
- D – Defibrillation (Defibrilasi): Jika tersedia Automated External Defibrillator (AED), pasang dan ikuti perintah suara dari mesin. AED akan menganalisis irama jantung korban dan memberikan kejutan listrik jika diperlukan. Dalam kasus serangan jantung mendadak di area publik seperti Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada hari Minggu, 13 April 2025, ketersediaan AED yang digunakan oleh petugas keamanan terlatih seringkali menjadi penentu utama kelangsungan hidup korban.
Penguasaan DRSABCD memberikan penolong alat yang sistematis untuk bertindak tanpa panik saat Menghadapi Korban Kecelakaan, memastikan bahwa setiap detik dihabiskan untuk tindakan yang memiliki dampak penyelamatan nyawa tertinggi.
